Bayangan
Tanggal 14 November 2012 di kota penuh turis, Bali. sesosok pribadi duduk terdiam sendiri di tepi kolam renang sebuah hotel dengan suasana berselimut kesejukan dan ketenangan. Hanya dengan ditemani suara gemericik air, pemandangan kosong dan suara merdu sang burung, air mata sang pribadi itu pun menetes perlahan. Hanya satu. Tes. Bercampur dengan genangan besar sang kolam renang, kisahnya bercerita.
Aku bukan sosok yang pemberani, ujarnya. Ya terlebih dalam hal ini. Tidak, aku bukannya tidak berani, tapi aku sudah lelah berada di titik yang sama, posisi yang sama berulang-ulang. Jika engkau tanya, apa yang membuatku lelah? Hanya satu jawabanku, perubahan. Terlalu banyak luka yang ditimbulkan oleh perubahan itu sendiri.
Kita anggap saja kejadian kali ini merupakan kesekian kalinya aku berada di posisi ini, serba salah. ada saatnya aku sangat senang menikmati hidup di sisi seseorang. Kami saling menyayangi, Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu, setiap hari. Tapi suatu seketika dia berubah. Tatapan di matanya tak lagi berkilau melainkan sendu. Aku bisa melihatnya. Dari segala hal yang telah terjadi kemudian dia berkata, "Aku ingin mundur"
"Mundur dari apa?" tanyanya lirih.
Hanya ingin mundur. Aku takut terus menyakitimu. Mungkin aku hanya tidak yakin pada perasaan ini, untuk sementara. Itu saja, seseorang itu menjelaskan.
Pribadi itu terdiam. Hey kau tau, bagiku kau bukan hanya sebuah bab dalam buku ku, kau buku itu sendiri. Aku setentunya tak tahu apa artinya diriku dan semua canda tawa yang kita lalu bersama itu bagimu? Kau tahu, aku akan selalu seperti ini. Menunggu dan terus menunggu menjadi yang satu-satunya terluka.
Aku ingin bertanya bagaimana kelanjutan kisahnya itu. Tapi pribadi itu menghempaskan dirinya ke dalam kolam, sadar dalam alamnya. Sebelum aku sempat melanjutkan ia kembali ke permukaan, terbesit senyuman tipis di bibirnya. Senyum penuh luka. "Aku menyadari itu bukan salah siapa-siapa. Juga bukan waktu dan takdir. Aku tetap mencintainya anyway"
"Mundur dari apa?" tanyanya lirih.
Hanya ingin mundur. Aku takut terus menyakitimu. Mungkin aku hanya tidak yakin pada perasaan ini, untuk sementara. Itu saja, seseorang itu menjelaskan.
Pribadi itu terdiam. Hey kau tau, bagiku kau bukan hanya sebuah bab dalam buku ku, kau buku itu sendiri. Aku setentunya tak tahu apa artinya diriku dan semua canda tawa yang kita lalu bersama itu bagimu? Kau tahu, aku akan selalu seperti ini. Menunggu dan terus menunggu menjadi yang satu-satunya terluka.
Aku ingin bertanya bagaimana kelanjutan kisahnya itu. Tapi pribadi itu menghempaskan dirinya ke dalam kolam, sadar dalam alamnya. Sebelum aku sempat melanjutkan ia kembali ke permukaan, terbesit senyuman tipis di bibirnya. Senyum penuh luka. "Aku menyadari itu bukan salah siapa-siapa. Juga bukan waktu dan takdir. Aku tetap mencintainya anyway"
Dia menyadari, selalu menyadari apa yang selama ini ia lewati memang hanya kepastiaan dari sebuah ketidakpastian. Ketidakpastian itu hanya satu, sebuah perubahan.
Aku, tertegun sambil berdiri. Betapa beruntungnya aku. Yang aku tahu ternyata selama ini pribadi itu tak pernah berhenti mencintai, hanya berhenti menunjukan. Aku menangis, hanya satu. Tes. Aku, bayangannya dalam masa lalu.
Aku, tertegun sambil berdiri. Betapa beruntungnya aku. Yang aku tahu ternyata selama ini pribadi itu tak pernah berhenti mencintai, hanya berhenti menunjukan. Aku menangis, hanya satu. Tes. Aku, bayangannya dalam masa lalu.
Comments
Post a Comment