Ruang cermin
Terjerumus kesendirian. Ya, Aku. Berdiri di tengah ruang dengan dinding berlapis cermin dan beberapa pigura foto kecil yang di gantung di punggung pintu. Hembusan udara dingin dari pendingin ruangan yang membuatku kaku. Kaku.
Hanya ex ballerina. Hanya seorang mantan penari berbalut pakaian senam ketat dan rok berenda menggunakan stocking warna senada kulit dan sepatu kain berpita, itulah Aku.
Memandang refleksi diri di salah satu cermin, Aku begitu memusatkan keputusasaanku pada sosok tersebut. Secara fisik dan mental, ya Aku sangat berubah, bagai hitam dan putih Aku seakan berkamuflase dengan keadaan tubuh dan batinku yang tidak se-terawat dulu.
Kusam, tak ramping dan sangat bukan tubuh yang ideal. Huh. Tak seperti dulu yang selalu bersinar tiap kali berlagak di atas panggung penuh lampu warna-warni. Yang selalu Kurawat dengan penuh kesabaran. Tubuh yang ramping berbalut pakaian yang membentuk lekukan-lekukan tubuhku, yang didambakan semua perempuan di bumi, bayangkanlah betapa bangganya Aku. Kakiku yang selalu berhasil membuat sikap sempurna bahkan membuat bagian tubuhku yang lain cemburu. Ah bagaimana bisa itu telah berlalu. Mereka semua bagai keajaiban tapi semuanya berbeda. Tak seperti dulu yang selalu bisa Aku banggakan, Dia dan Mereka, tak lagi.
Aku kembali memalingkan tatapan dari gambaran keseluruhan tubuhku. Aku bersandar di salah satu sanggaan dulu tempatku berlatih tiap hari. Kuregangkan sedikit tubuhku, ah tidak selentur dulu. Aku coba dengan irama dalam hati, menggerakan seluruh otot tangan dan kaki ku, tiap ritme aku tetapkan, tapi tidak, tidak selincah dulu. Gerakanku tak lagi indah, bukan gerakan seorang ballerina batinku. Tak seperti dulu, sebagai primadona, gerakanku bagai sihir yang menyihir tatapan-tatapan penontonku. Tak seperti dulu, tidak.
Aku menerawang ke dalam hatiku, bukan lagi fisik. Hatiku tak sama seperti dulu, lebih rapuh dan tak terurus. Selain karirku yang sudah tak menentu arah, hidupku lebih membingungkan untuk dituturkan. Terlalu banyak masalah dan terlalu sedikit kekuatan. Semuanya telah berubah. Semangat, emosi dan kepulihan suatu rasa. Lelah rasanya dengan keadaan. Dulu ketika Aku lelah, Aku menari dan ketika menari semuanya kelihatan lebih baik, jauh lebih baik dan yang tersisa hanya rasa letih yang menyusul setelah bertetes-tetes keringat kukerahkan. Bagiku hanya satu yang tak pernah berubah, kesetiaanku pada ballet. Sama seperti dulu, Aku jatuh cinta.
Kuberjalan ke sisi lain ruang penuh sejarah mimpiku ini. Ke sebuah pintu coklat kayu yang penuh dengan pigura-pigura kecil yang digantung. Sudah rapuh dan kusam. Aku meraba tiap senyuman yang terukir di wajah gadis muda dengan baju ballet itu, ah betapa bahagia dan bangganya ia. Ada yang mengenakan baju merah muda, memasang senyum di wajah, menggengam sebuah piala, mengalungkan medali emas, menunjukan kebanggaan. Ah bahagianya, Aku rindu.
Tak terasa, semua kilas balikku menguras tenaga. Aku lelah dan terpaksa duduk di tengah ruangan lagi. Banyak hal yang telah terjadi dahulu, tapi semuanya sudah berlalu. Ruangan ini, bukan ruanganku lagi, mimpi ku, bukan mimpiku lagi. Semuanya telah berlalu dan mimpiku dulu telah tercapai. Walaupun kesetiaanku pada ballet telah medarah daging dan seakan-akan itu akan abadi, tidak, semuanya tak seperti dulu, tak akan pernah.
Tak terasa, semua kilas balikku menguras tenaga. Aku lelah dan terpaksa duduk di tengah ruangan lagi. Banyak hal yang telah terjadi dahulu, tapi semuanya sudah berlalu. Ruangan ini, bukan ruanganku lagi, mimpi ku, bukan mimpiku lagi. Semuanya telah berlalu dan mimpiku dulu telah tercapai. Walaupun kesetiaanku pada ballet telah medarah daging dan seakan-akan itu akan abadi, tidak, semuanya tak seperti dulu, tak akan pernah.

Comments
Post a Comment