Black-sided Mirror
Mata yang pucat itu terus menerawang jauh ke dalam cermin itu. Cermin yang kacanya pecah, cermin yang bukan lagi cermin. Hitam. Hitam pekat warnanya.
Katanya mata itu bisa melihat dunia di situ. Dunia yang tak dapat dilihat olehku, oleh mereka dan hanya oleh dia. Katanya pula dunia itu indah, indah yang saking indahnya hanya mata yang dapat berkata. Dunianya, dunia yang ada di sisi hitam sebuah cermin.
Sering kupandang cermin itu, tapi hitam yang kulihat. Kadang kusentuh, kuraba, kurasa. Hambar. Kubiarkan pandanganku terlelap, tapi dunia itu tak kunjung pula datang.
Dimana dunia yang diimpikannya? Dimana kesempurnaan sebuah pengelihatan sepasang pandangan pucat? Apakah hanya dia, hanya dia yang melihat kebahagiaan?
Dunia itu ada di dalam matanya. Pernah sekali kutanya ada apa dan bagaimana.
Dia diam. Satu menit dua menit tak ada balasan terlontar dari bibirnya. Tak kunjung kutemui jawaban yang menyambangi. Dan tanpa kusadar hanya sepasang mata yang mengawasi.
Indah. Ah indahnya mata itu. Tetap kulihat kepucatan, tapi ada warna yang megah membentang. Hanya satu, hanya satu yang kulihat.
Sinar itu memancarkan kesempurnaan. Percikan keindahan, kebahagiaan serta beribu-ribu kata-kata yang terucap semua ada disitu. Disitu! Ya di sepasang mata pucat yang bisu itu! Indah, tapi sayangnya beku.
"Indah. Indah tapi beku."
Terlontar sebuah pernyataan...atau mungkin pertanyaan?
Tapi dibalasnya hanya dengan senyuman. Bukan! Bukan terukir di bibir mungil itu, tapi di sepasang mata kelam tersebut. Bagaimana? Bagaimana dia bisa menjawab semua teka-teki pemikiranku lewat tatapannya? Terlebih, apa yang dilihatnya dari sepasang mata itu?
Kuhabiskan separuh waktuku mengamati cermin hitam itu. Terpaku aku dibuatnya saat detik itu aku melihat gambaran tentang kesempurnaan di balik warna hitam cermin itu. Indah sekali benakku, lebih indah dari indah yang beku miliknya. Tapi saat kupalingkan diri, dunia itu hampa dan tak kutemui pengelihatanku lagi. Enggan menyerah tapi tetap sia-sia usahaku mencoba menelusur hitamnya cermin itu lagi.
"Indah."
Hanya itu yang ia bisikan. Mungkin pertama dan terakhir kalinya dia membuka mulutnya. Satu kata yang rumit kuartikan dan takkan pernah lagi kudengar.
Aku memutuskan untuk berjalan pergi. Tak akan kembali putusku. Sebelum aku pergi, sempat kulihat sepasang mata kelabu tersebut. Dan saat itu juga aku sadar bahwa kami memiliki satu kesamaan. Dunia. Dunia kami sama-sama indah, tapi indah yang kami lihat berbeda pandang. Karena dunia nya indah untuknya. Hanya dia yang tau dimana indahnya pengelihatan itu.
Dan aku? Telah kulihat kesempurnaan yang tak dapat dilihat oleh sepasang mata lain. Mata nya dan mata mereka, tidak ada. Hanya aku dan keindahan duniaku.
Saat itulah aku sadar aku hidup. Hidup dari dan dalam duniaku sendiri. Belajar dari sepasang mata pucat, dan sisi hitam dari semua cermin rapuh.
Comments
Post a Comment