b a t u

Seperti seonggok batu di pinggir pantai, dengan semua kebisingan deburan ombak dan kicauan burung, senja yang berlalu lalang, semua itu hanyalah tokoh figuran. Semuanya hanya semu.

Mungkin seperti itulah aku. Yang tak bosan melihat orang yang lalu-lalang penuh canda tawa, alunan musik tenang yang mengalun, tiap hebusan nafas dan dentuman langkah kaki. Tapi semua itu hanya latar belakang. 

Atau mungkin ada yang terengah-engah dari sadisnya perkelahian, dari kerasnya hidup dari kesendirian. Tapi sedikitnya mereka merasakan sesuatu, tak seperti batu--aku, mati rasa.

Kesepian kah? Atau ini yang dinamakan kesendirian? Aku bahkan tak tau, karena aku tak memilih. Tak bisa memilih. Apakah terlalu lama, atau terlalu menderita akibat kekosongan? Atau justru ketidak-berartian?

Bahkan sebuah batu mempunyai artian dan makna. Perannya mungkin tak tersorot, tapi ia juga tak kosong. Apa sebenarnya arti hidup jika kekosongan ini yang lama-kelamaan menyempurnakan? Sebegitu ironisnya kah bahwa justru aku yang tak bermakna?


Comments

Popular Posts