Dia yang Tak Nyata

Aku sudah termenung di kursi taman ini sambil mengunyah sebungkus kacang sekitar dua jam lamanya. Penggalangan dana tinggal sebulan lagi, namun disinilah Aku dengan ideku yang buntu. Tak tau apa yang harus kugoreskan di selembar kertas putih ini.

Disaat Aku mulai kehilangan kesabaran, seorang anak berlari didepanku sambil memegang balon. Rambutnya pirang berkepang dua mengenakan baju terusan berwarna merah muda. Ah lucunya. Ia berhenti di depan danau dan berjongkok sambil bermain dengan angsa yang sedang berenang.

Aha!

Dimenit kemudian, tanganku telah sibuk menari-nari di atas kerta putih. Meninggalkan jejak-jejak pensil yang membentuk sebuah siluet anak kecil tersebut. Saking senangnya melihat kelancaran ideku, Aku tak sadar bahwa anak itu telah berlari meninggalkan taman. Dengan refleks aku bangkit dan mengejarnya. Tak tau mengapa pikiran itu terlintas, tapi kemauan itu tiba-tiba muncul. Mungkin hanya untuk membelikan sebatang es krim untuk hadiah kecil karena telah menjadi inspirasiku, batinku.

Ternyata larinya kencang juga selagi aku mengejarnya dengan terengah-engah. Kucoba memanggilnya, tapi anak itu terus berlari menyebrangi mobil yang berlalu-lalang di jalan raya. Dan ketika Aku hampir menangkapnya, kusadari sebuah mobil telah melaju kencang ke arahku dan melontarkan ku beberapa meter kedepan. Dengan hanya setengah kesadaran, Aku bisa melihat kejamnya mobil itu yang meninggalkanku tergeletak di tengah jalan.

Aku membuka mata di kamar sebuah rumah sakit. Ingatanku samar-samar. Yang ku ingat hanya Aku yang terlempar dan ya! Aku baru saja menjadi korban tabrak lari sebuah mobil merah. Sangat sial, pikirku. Ditambah dengan robeknya gambaran yang hampir selesai yang kubuat susah-susah itu, hariku tak bisa lebih buruk. Ah, Aku benci mobil merah itu.

Setelah merasa cukup beristirahat di rumah sakit, Aku kembali ke rumah dan tanpa buang waktu mengambil buku gambarku untuk menyelesaikan deadline karyaku. Aku pergi lagi ke taman untuk menggambar dan disitulah keberuntungan menghampiri. Seorang wanita manis duduk sendirian di tempatku biasa merenung. Menggunakan gaun mini berwarna hijau muda, ia terlihat sendu, tapi Aku enggan bertanya. Aku memutuskan untuk duduk di kursi tepat disebrangnya dan mulai menggambar. Oh matanya yang berkilau walau saat sendu, tubuhnya yang ramping, begitu indahnya. Konsentrasiku buyar saat mendapatinya sudah ada di depanku.
"Kau daritadi memperhatikanku? Ada apa ya??" tanya model dalam gambaranku itu.
"Yaampun maaf atas kelancanganku. Aku hanya tertarik untuk menjadikanmu salah satu objek lukisanku."
Dan begitulah, kami pun berkenalan. Aku dan Dia. Menjalin pertemanan, tak jarang Dia menjadi model dalam lukisanku. Bahkan salah satu karyaku, kupersembahkan untuknya sebagai hadiah pertemanan kami. Ya, sudah sedekat itulah pertemanan kami.

Hari penggalangan dana yang kutunggu akhirnya tiba. Di hari yang sama sebenarnya Aku berniat untuk menjadikan Dia sebagai pacarku. Aku sudah mempersiapkan semuanya, termasuk lukisan terbaikku yang akan kupersembahkan padanya.
Pada akhir acara, semua lukisanku terjual habis dengan dana yang terkumpul terbilang besar. Tapi semua itu tak cukup membahagiakanku. Selama acara berlangsung, kucoba berkeliling dan menghubunginya, namun tak bisa. Sampai acara selesai, tak ada kabar darinya, Dia tidak datang.

Di rumah, Aku melempar diriku ke sofa dan mencari remot tv. Seketika jantungku sesak. Foto yang kulihat seperti wanita yang telah kutunggu semalaman ini terdapat di tumpukan koranku minggu lalu.
"Kecelakaan Maut Menewaskan Pengemudi" Kecelakaan diakibatkan kelalaian pengemudi yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan hilangnya kendali saat berusaha menghindari seorang penyebrang jalan. Panjang penjelasannya, tapi baris-baris informasi lainnya seketika tampak buram di mataku. Kutatap kembali foto dan identitas dari korban. Kusipitkan mataku, berkali-kali ku coba menyalahkan pengelihatanku, tapi...

Otakku tak bisa berpikir, akal sehatku hilang. Sudah tiga jam Aku terbaring, tapi belum juga terlelap. Semuanya bagai mimpi yang nyata tapi mustahil. Lukisan itu nyata, perasaan ini nyata, semuanya nyata, bahkan Dia juga sangat nyata bagiku. Aku tenggelam dalam kebingungan dari sebuah kemustahilan. Seram, tapi sedih. Jadi sebenarnya siapa dan apa dan bagaimana selama ini Aku menjalani hari-hari persahabatanku? Nyata kah? Bagaimana ini bisa terjadi padaku setelah Aku terlanjur mencintainya?

Tenagaku habis untuk tenggelam dalam pertanyaan dan presepsi. Akupun terlelap. Dalam tidur, Dia mengunjungiku. Kami bertemu di taman, kursi, pakaian, waktu dan perasaan yang sama saat kami pertama kali bertemu. Wajahnya pun tetap sendu. Ku hampiri Dia dan tiba-tiba ucapan maaf terlontar darinya. Selain karena kecelakaan itu, Dia juga menyampaikan maaf dengan tangisan. Kami tak bisa bersama. Tidak dalam mimpi, dunia nyata bahkan di hati kami. Tidak ada tempat dimanapun. Dunia kami berbeda, katanya.

Aku bangun dengan air mata yang membanjiri bantal dan tubuh yang dibalut cucuran keringat. Aku bangkit dan pergi ke mejaku. Ku tinju beberapa kali meja itu. Kepalan tanganku sakit, tapi tak sesakit hati ini. Kurobek beberapa karyaku sambil berteriak-teriak hilang kendali. Kucoba menggambarkan isi hatiku. Goresan-goresan kuat berwarna hitam, serta gambaran wajahmu. Sang pengemudi mobil yang tadinya kubenci itu. Sang pengemudi yang terlalu indah untuk dibilang tak nyata.

Saat itu pukul tiga dini hari. Kuraih seutas tali, kemudian kubuat simpul sederhana. Malam itu, kujadikan duniaku dan dunianya bersatu. Selamanya.

Comments

Popular Posts