Questions in Four Months
Sebuah pertanyaan sekarang terlintas. Mungkin lebih tepatnya terlintas 'lagi'. Atau lebih dan lebih tepatnya 'masih' terlintas hingga sekarang. Sejak? Sejak empat bulan yang lalu. Ya, empat bulan. Lama? Sebentar? Ah apa bedanya kini.
Kadang merasa bimbang untuk bertanya karena sejujurnya juga tak tau apa yang harus dipertanyakan.
Siapa?
Sejak kapan?
Kenapa?
Apa alasannya?
Bagaimana bisa?
Yang mana?
Kadang juga merasa heran. Kenapa begitu penasaran tentang sebuah jawaban? Kenapa begitu menuntut? Kenapa merasa dituntut untuk menuntut sebuah penjelasan? Apa kurang puas mendapat jawaban dari orang-orang sekitar? Atau hanya akan berhenti sampai pertanyaan tersebut dijawab oleh jawaban yang ingin kita dengar?
Tak jarang pula campuran itu semua muncul.
Menuntut sebuah jawaban tapi tak tau apa yang harus dipertanyakan lagi. Lalu bagaimana?
Memohon untuk penjelasan yang lebih, sebab jawaban yang diberikan belum membuat rasa penasaran ini hilang. Banyak mau?
Atau bisa juga. Sangat ingin bertanya. Tau pertanyaan yang akan dilontarkan, tapi apakah sebenarnya berani mendengar kenyataannya? Tak siap mental?
Dari waktu dan kejadian-kejadian yang telah terjadi, sudah bisa menyimpulkan, tapi tak berani berestimasi. Takut kalau semuanya benar, atau salah. Takut akan kemungkinan terburuk?
Semua itu telah berjalan selama empat bulan. Kadang muncul dan kemudian hilang. Kadang terbawa mimpi indah, kadang masuk ke dunia bawah sadar yang buruk. Harus bagaimana?
Yang terburuk akan semuanya.
Apakah siap mendengar?
Siap melihat?
Siap menerima kenyataan?
Nyatanya pasti tidak.
Lalu mau apa?
Kadang merasa bimbang untuk bertanya karena sejujurnya juga tak tau apa yang harus dipertanyakan.
Siapa?
Sejak kapan?
Kenapa?
Apa alasannya?
Bagaimana bisa?
Yang mana?
Kadang juga merasa heran. Kenapa begitu penasaran tentang sebuah jawaban? Kenapa begitu menuntut? Kenapa merasa dituntut untuk menuntut sebuah penjelasan? Apa kurang puas mendapat jawaban dari orang-orang sekitar? Atau hanya akan berhenti sampai pertanyaan tersebut dijawab oleh jawaban yang ingin kita dengar?
Tak jarang pula campuran itu semua muncul.
Menuntut sebuah jawaban tapi tak tau apa yang harus dipertanyakan lagi. Lalu bagaimana?
Memohon untuk penjelasan yang lebih, sebab jawaban yang diberikan belum membuat rasa penasaran ini hilang. Banyak mau?
Atau bisa juga. Sangat ingin bertanya. Tau pertanyaan yang akan dilontarkan, tapi apakah sebenarnya berani mendengar kenyataannya? Tak siap mental?
Dari waktu dan kejadian-kejadian yang telah terjadi, sudah bisa menyimpulkan, tapi tak berani berestimasi. Takut kalau semuanya benar, atau salah. Takut akan kemungkinan terburuk?
Semua itu telah berjalan selama empat bulan. Kadang muncul dan kemudian hilang. Kadang terbawa mimpi indah, kadang masuk ke dunia bawah sadar yang buruk. Harus bagaimana?
Yang terburuk akan semuanya.
Apakah siap mendengar?
Siap melihat?
Siap menerima kenyataan?
Nyatanya pasti tidak.
Lalu mau apa?
Comments
Post a Comment