Lyn.
Kata mereka cinta itu saat kita bersama dengan orang yang kita kasihi, saling memiliki. Dan kata mereka cinta itu indah. Tapi itu hanya kata mereka. Mereka yang tak tau cerita cinta kita. Kisah cinta aku dan kamu.
"Tak apa kalau kita tak bersama sekarang. Aku selalu ada disini sekarang dan selamanya. Jadi kapanpun kamu kembali, kamu akan selalu menemukanku." Tak bisa lagi kuhitung sudah berapa kali kamu mengucapkan kalimat itu dengan pelukan hangatmu. Dan berkali-kali aku tidak bosan mendengarnya, berapa air mata yang kuteteskan. Tapi aku bisa apa? Semuanya memang salahku sejak awal dan bodohnya, sampai sekarang aku tetap tidak bisa mengambil keputusan.
--
Siapasih yang tak kenal Dymas? Pria impian semua kaum hawa yang hangat, berjiwa besar dan dicintai semua. Dan tentu saja, dia juga impianku. Aku mencintainya, dan dia? Apa yang harus kuragukan lagi dengan cintanya? Walaupun bisa dibilang aku satu yang beruntung yang mempunyai hubungan dekat dengan Dymas, tapi sejauh ini hubungan kami hanya 'dekat', jadi menurutku kata beruntung belum bisa memenuhi.
Di sisi lain aku punya Reza. Pria mapan, berwibawa dan dia juga impian semua kaum hawa, bahkan ibuku. Tapi bukan aku. Hari-hari kujalani dengannya, walaupun kami telah menjalin hubungan selama dua tahun dan semuanya tampak baik, sejujurnya perasaanku tidak pernah baik-baik saja terhadapnya. Tiap hari kucoba menumbuhkan rasa, tapi sebatas perhatianlah yang ada untuknya.
"Kalau bukan karena dia, mungkin ibu sudah tidak ada disini, Lyn. Dia telah banyak membantu kita dan mencintaimu tulus, nak. Janganlah kau sakiti hatinya."
Berkali-kali sudah kudengar kalimat itu. Gerah. Ah ibu, tapi apabisa aku melawanmu? Tapi apakah perasaanku sama sekali tidak diperhitungkan, bu?
--
"Dym!! Kamu dimana? Aku kesepian. Ke café biasa gimana?"
"Siap tuan putri."
"Loh Lyn, ngapain kamu disini sendirian? Kok gabilang aku aja?"
Ya Tuhan, tolong jangan sekarang pekikku dalam hati. Yang kutunggu bukan dia...
"Oh hai Za, aku lagi bosen ajanih. Gaenak aja takut ganggu kerjaan kamu."
"Oh hai Za, aku lagi bosen ajanih. Gaenak aja takut ganggu kerjaan kamu."
"Oh yaampun tenang aja sayang. Oh iya ngomong-ngomong selamat dua tahun sayang. Aku punya hadiah loh buat kamu."
"Selamat dua tahun juga Reza sayang. Apatuh hadiahnya?"
"Untuk hari ini dan kedepannya," Reza membuka kotak kecil itu. Oh tidak, tolong aku Tuhan, jangan sekarang. Aku tidak bisa menjalani ini lebih lama lagi.
Aku bertekad untuk jujur setelah apa yang telah kujalani selama ini. Tentang aku, perasaanku dan Dymas, saat aku terpekik akan getaran di hpku. Terdapat pesan singkat tertera "Selamat dua tahun sama Reza sayang. Ibu selalu yakin semuanya akan berjalan sebahagia ini. Tolong bilang Reza ibu titip salam ya."
Aku kembali sadar akan Reza yang sedang berlutut di depanku. Dadaku sesak, tak tau harus bagaimana. Ini semua harus dihentikan, Reza pantas mendapatkan yang lebih baik. Lagi pula Dymas juga pasti.....Ah tapi sms dari ibu kembali menghantuiku. Akankah ku kecewakan satu-satunya keluarga yang kumiliki? Aku ingin mati saja!
"Untuk hari ini dan kedepannya, Lyn," kuanggukan kepalaku dengan berat dan senyum yang pilu kuukir di bibir ini. Nyeri rasanya hati ini tak dapat kubendung. Kulihat senyum Reza yang tulus. Jahatkah aku, Dym? Jahatkah aku padamu? Pada Kamu, Reza?
Jauh dibelakang sosok bayangan itu tak bergeming. Diam. Kaku. Dingin. Dari jauh ia telah memperhatikan semuanya. Tanpa aku tau, sosok itu telah pergi. Pergi meninggalkan aku, mungkin untuk selamanya.
--
Sabar. Kata orang kita harus sabar. Tapi sampai kapan? Sampai keajaiban datang? Tapi semua ini sekarang tidak bersifat sementara. Jadi sampai kapan harus menunggu keajaiban? Tidakkah pengorbananku selama ini kurang?
--
Sejak hari itu Dymas tidak bisa dihubungi. Yang aku tau Dymas pergi meninggalkanku. Meninggalkan kita semua. Pergi meninggalkan aku sendiri disini dengan cara yang tak mulia. Aku tidak yakin tempat itu akan lebih baik dari bumi, tapi yang aku yakin ia akan terus menungguku disana, dimanapun itu. Dengan tulus dan ikhlas sampai aku menyusulnya. Karena aku tau ia akan selalu ada disana. Menungguku dengan sabar.
Comments
Post a Comment