Let a Knife Just be a Knife

Ketika sebuah kata-kata melampaui ketajaman sebuah pisau. Pernah kah kamu merasakannya? Atau mungkin justru kamu yang menusukan kata-kata keji itu tepat di titik terlemah seorang manusia?

Aku pernah menggambarkan dunia yang bahkan tak nyata, mencoba mengerti waktu dan dalam sebuah mata, mencoba untuk melihat kilauan yang indah. Tapi pisau? Siapa yang sesungguhnya pernah memperhatikan ketajamannya? Kamu? Pernahkan dalam setitik saja noda hidupmu mencoba untuk sedikit peka dan menjaga kelicikan pisaumu? Atau justru menjadi korban keterpurukan?
Kamu, aku, kita semuanya punya pisau itu. Kita hanya tinggal memilih untuk memberikan pisau itu sendiri sebuah kekuatan atau berusaha untuk menyarungkannya.

Menurut kamu bagaimana aku bisa tau? 
Anggap saja aku itu kamu dan aku punya kuasa untuk menikammu dengan pisauku. Saat itulah pisauku telah menjadi senjata paling ampuh untuk menjatuhkan mentalmu. Rasanya? Tak terbayangkan! Perih pedih dan pilu yang seakan merubuhkan semua perasaanmu. Hanya dengan sebilah pisau yang mengeluarkan beberapa kata tajam? Itu saja?
Mungkin menurutku itu hal yang biasa. Gurauan mungkin? Tapi aku yakin rasa yang kamu rasakan adalah beribu-ribu kali lebih menyakitkan dari hanya sebuah tusukan pisau. Aku juga yakin kamu akan  jatuh dan baru menyadari bahwa air mata yang tadinya tertahan terlalu lama itu sudah ada pada waktu meledaknya. Bahwa rasa sakit itu tak ada yang bisa menandingi. Sampai di titik akupun takan tau seberapa tajamnya pisauku dapat berperan sampai aku sendiri yang merasakan tikaman itu. 
Menurutmu bagaimana analisaku? Tajamkah?
Lalu kembalikan lagi saja kepada fakta bahwa sejak awal, kuasa itu ada di dalam dirimu. Dan korbannya adalah aku. Kalau kau ada di posisi kuasa penuh, tanyakanlah pada kata hatimu terdalam. Akankah kau tusukan pisau mu kepadaku? Akankah lidah kejimu itu berani menjilat kelemahan emosi seseorang?

Mungkin kita --aku dan kamu, hanya bisa membiarkan pisau berperan sebagai pisau dan hanya sebatas itu saja kita pun bisa berperan. Karena selanjutnya hanya tersisa emosi dan perasaan yang bermain peran. Kamu tak akan tahu seberapa sakit pisaumu dapat menikam dan seberapa jauh pisaumu bisa bertindak hingga kamu sendiri yang merasakan kepiluan itu.

Jadi sarungkanlah pisaumu.

Comments

Popular Posts