Untuk Kawan
Maaf.
Maaf atas sebuah perkenalan. Berharap semoga tidak ada penyesalan di antara kita, karena tak ada yang bisa di undur kembali. Bisakah?
Maaf.
Maaf untuk segala kebodohan. Sengaja atau bukan, ah kita semua pernah melakukannya. Bukankah begitu?
Maaf.
Maaf untuk segala keegoisan. Mungkin untuk pembelaan diri, hal benar ataupun salah. Kita semua bersifat begitu, bukan?
Maaf.
Maaf telah menjadi seseorang yang bukan diharapkan seperti di awal. Tak ada yang pasti, aku, kamu kita berubah. Tak ada sesuatu yang sama seiring berjalannya waktu. Maukah memaklumi?
Maaf.
Maaf atas semua perubahan dan kamuflase bodoh. Mungkin gangguan emosi atau hanya problematika ringan semata. Kita semua tidak hanya diam dan mengikuti, kan?
Maaf.
Maaf atas air mata yang terbuang percuma. Cengeng kata mereka, tapi bukankah itu perasaan? Kamu tentu pernah merasakannya juga, bukan? Tapi tetap saja, maaf.
Maaf.
Maaf untuk semua pisau-pisau tajam yang pernah tertusuk. Disengaja atau tidak, disadari atau tidak, kita tau pisau tetaplah pisau. Yang telah terucap taklagi bisa ditarik. Pilu? Aku tau. Jadi maafkan.
Maaf.
Maaf akan sebuah perkelahian. Kata mereka hidup penuh sensasi, jadi sedikit lika-liku percekcokan tak akan merubah banyak. Memang iya?
Maaf.
Maaf untuk yang tak terucap ataupun terlaksana seperti seharusnya. Bukankah kita punya pilihan dan terlalu bodoh untuk tidak memutuskannya? Terkadang pribadi ini memang terlalu tak bernyawa. Matikah?
Maaf.
Maaf untuk pengasingan diri dan ketidakpercayaan. Tentu kau tau, aku tidak pernah punya apa yang orang bilang kepercayaan diri yang sudah terlanjur menyelubungi. Akankah kau coba untuk mengerti?
Maaf.
Maaf atas sebuah kerahasiaan. Ada beberapa hal yang sebaiknya tak terucap, setuju?
Maaf.
Maaf untuk tak terhitungnya kata maaf yang telah atau akan terlontar. Akan ada saatnya aku membuat kesalahan yang telah coba kuhindari, lagi dan mungkin lagi dan lagi. Tapi percayalah ini semua tulus kuucapkan.
Maaf, maaf dan maaf sebagai keseluruhan. Canda tawa, tangis dan hina, pujian dan cemooh, kekerasan dan belaian. Untuk semua yang telah dan mungkin akan terlaksana, dalam kesadaran maupun tidak. Atas semua yang telah dan akan terukir.
Ingatlah toleransimu sangat kubutuhkan. Jadi diantara kita, berilah kesempatan satu sama lain untuk mengucapkannya. Maaf.
Comments
Post a Comment