Saya. Ia. Dia

Mata saya merah, mata yang habis menangis. Mata ia juga merah, mata yang habis menangis juga. Dia? Mata dia juga merah, merah habis menangis juga. Kami bertiga habis menangis. Menangis di tempat yang sama, di ruang yang sama, di waktu yang sama juga alasan yang sama.

Pakaian ini indah, sangat indah sampai-sampai saya tercengang bahwa dalam beberapa bulan itu akan saya kenakan. Dalam sesi fitting baju pengantin ini saya ditemani dia. Dia yang dulu memberi saya pilihan untuk bahagia. Dia, yang bukan akan saya dampingi dalam pelaminan.

Di waktu yang sama ia sedang dalam perjalanan. Kami- ia, dia dan saya akan makan malam bersama. Pada waktunya kami duduk di meja bundar yang saling menyatukan jiwa dan raga kami. Kami bertiga bertukar tatapan kosong. Saya-ia-dia pasti saling memikirkan kebahagiaan satu sama lain, saling memberikan pilihan bahagia dalam diam, berteriak dan bertengkar untuk bahagia pun juga dalam kesunyian diam.

Beberapa tahun lalu, ketika sedang minum teh, ia memberiku pilihan untuk bahagia. Ia bilang ia akan bahagia kalau saya bahagia, yaitu bila saya dengan dia, ia menyimpulkan. Saya bingung. Bagi saya, kebahagiaan saya adalah ketika ia dan dia bersama. Saya dan ia pun mengerti bahwa kami saling tidak mengerti. 

Pada acara minum teh yang lain, saya dan dia berbincang. Dia memberikan saya pilihan untuk bahagia. Dia bilang dia ingin saya bahagia dengan bersama dengan ia. Saya bingung. Saya bahagia bila dia dan ia bahagia bersama, tanpa saya. Sesederhana itu, tapi begitu rumit.

Harinya datang dan ia telah siap. Saya tak tau jika ia bahagia; karena saya tidak. Dia juga tak bahagia, kami satu aliran. Dalam detik-detik terakhir, dia menggenggam tangan saya erat dan berlari keluar menjauhi pelaminan tempat saya akan mengukir janji. Waktu bergulir, ia sadar saya telah pergi. Pergi dengan dia yang menawarkan saya kebahagiaan. Ia jatuh ke tanah, menyadari kebahagiaannya telah dibawa pergi.

Saya dan dia berhenti. Dia menatapku dalam diam, dengan mata merah yang sehabis menangis. Saya tau saya telah merenggut kebahagiaan dia, dia pun begitu. Kami pun hanya berbicara dalam diam sampai tiba di satu kursi taman.

Kami duduk melihat danau. Dia tau saya tak bahagia, tapi dia diam. Saya tau dia tak bahagia, tapi saya diam. Tiba-tiba ia datang dari belakang dan duduk di samping saya. Ia tau ia tak bahagia, ia tau saya dan dia tak bahagia, tapi ia diam. Kami bertengkar dalam diam, berteriak dan memberontak, menangis dengan mata merah, dalam diam. Saya, ia dan dia tau kami tak bahagia, karena sesederhana itu kami tak bisa bahagia, serumit itu untuk tau.

Comments

Popular Posts