Terjebak Nostalgia

Disinilah aku. Duduk di sudut ruangan, ditemani secangkir kopi panas dengan uap beterbangan disana sini. Pagi ini aku ada janji temu dengan rekan bisnis sekaligus sahabatku sejak SMA, Noah. Kami berjanji untuk bertemu disini pukul 2, tapi seperti biasa aku selalu datang lebih awal.

Aku Mosa, dan aku suka secangkir kopi. Masih panas, seperti saat kita bertemu. Kulambangkan sebagai kesadaran bahwa sepertinya aku tertarik, menyengat lidah. Sedikit pahit karena kita tak saling mengenal dan berbau kayu manis karena tak saling bicara tapi sudah cukup membahagiakan. Lalu kutambahkan sedikit gula, manis, tapi tak banyak. Kita berkenalan dan bunga hatimu kembali mekar . Lalu punyaku? punyaku akhirnya tumbuh. Hari-hari dijalani, tapi rasanya belum mencapai kenikmatan. Jadi kutambahkan lebih banyak gula. Manis yang pas. Seperti wajahmu yang setiap hari kurindukan. Seperti sebuah perjalanan yang akhirnya kita tempuh untuk mengukir senyum.

Baru pukul 2 kurang 10. Pandanganku tertuju ke pintu kedatangan, tapi hanya harapan terpendam yang muncul mengingat Noah tak pernah datang lebih awal di janji kami. Jadi aku kembali menunggu.

Aku suka waktu. Ku asingkan pendengaranku hanya pada pusaran tiap detik waktu berlalu di jam tanganku. Waktu tak pernah melihat kebelakang. Selalu berjalan menuju masa depan yang penuh misteri, seperti kita yang saat membangun harapan masa mendatang tanpa tahu apa yang akan menghadang kita di celah-celah. Kadang waktu terasa lama. Berjalan perlahan tapi pasti, seperti kasih kita yang selalu hadir satu sama lain dari hari ke hari tanpa kasih lain yang mendahului untuk waktu yang lama.

Sudah pukul 2. Noah belum muncul dan kopiku beranjak dingin.

Perlahan tak panas, kemudian mencari dingin. Ketika rajutan kasih kehangatan lama kelamaan pudar. Ketika kita masih bersama, tapi muncul sebuah pemikiran baru, pemikiran yang tak pernah ada saat kopiku masih panas dan mulai meruntuhkan apa yang telah dibangun. Rasa kopinya taklagi nikmat tapi masih bisa ditoleransi. Seperti ada rasa lain yang bercampur. Ada kata menyerah tapi takrela untuk melepas.

Di luar hujan deras dan waktu menunjukan pukul 2 lewat. Noah telat, tidak pernah sebelumnya. Ia berlari dalam serbuan hujan memasuki cafe kemudian menghampiri. "Maaf aku terlambat. Aku baru saja dapat kabar gembira. Istriku hamil!" serunya. "Wah selamat untukmu dan Saphire," balasku.

Kopiku terlanjur dingin. Dingin yang hampir beku. Dingin yang kurasakan saat kesendirian menyelimuti, saat kopi panasku usai. Saat tak lagi ada harapan untuk kembali menjadi hangat. Menyengat lidah, tidak enak dan tidak bisa dinikmati saat mendengar apa yang tak ingin didengar. Semua hanya terlalu tak nikmat untuk dibilang cukup nikmat dan dinikmati.

Aku Mosa. Aku terjebak nostalgia kopi panasku, Saphire. 

Comments

Popular Posts